KEMENTERIAN KESEHATAN RI

PUSAT KESEHATAN HAJI

Kuliah Umum Wakil Menteri Kesehatan di FK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 Senin, 04 April 2022
 Puskeshaji

Puskeshaji, Jakarta - FK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan Kuliah Umum Pengantar Modul Geriatrics and Hajj Pilgrims Medicine secara virtual dengan tema “Sistem Layanan Kesehatan Haji dan Strategi Perlindungan bagi Jemaah Lansia”. Kuliah umum dimulai pukul 09.00 WIB, diawali dengan welcoming speech dari Dekan Fakultas Kedokteran FK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dr. Hari Hendarto, Ph.D, Sp.PD-KEMD dan dilanjutkan dengan paparan narasumber Wakil Menteri Kesehatan dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D. Acara ini merupakan kuliah perdana Blok Geriatri-Haji di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (FK UIN) Jakarta.

Pada kuliah umum ini Wakil Menteri Kesehatan menyampaikan, “Berdasarkan data Siskohatkes Pusat Kesehatan Haji selama tahun 2017 sampai dengan tahun 2020, terdapat 63 hingga 68% calon Jemaah Haji memiliki profil risiko tinggi kesehatan, antara lain:
1. Penyakit degeneratif seperti Alzheimer, Demensia.
2. Penyakit metabolik seperti Diabetes Mellitus, Dyslipidemia, Hiperkolesterolemia.
3. Penyakit kronis seperti Sirosis, Keganasan, PPOK, CKD, Gagal Jantung.
4. Penyakit imunologi seperti Asma, SLE, HIV/AIDS.
5. Penyakit bawaan seperti Kelainan Katup Jantung, DM Tipe 1, Kista Ginjal.
6. Penyakit jiwa seperti Skizofrenia, Gangguan Bipolar.

Prevalensi penyakit tidak menular lebih tinggi pada lansia dibandingkan dengan non-lansia, penyakit terbanyak pada jemaah haji lansia antara lain: Diabetes, Penyakit Jantung, Stroke, dan Hipertensi. Sedangkan jenis aktivitas saat berhaji yang berisiko tinggi bagi lansia antara lain: dalam perjalanan (penerbangan), Tawaf, Sa’i, Wukuf, dan Melontar Jumrah.

Pada akhir paparannya, Wakil Menteri Kesehatan menyampaikan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. 2 dari 3 calon jemaah haji Indonesia memiliki risiko tinggi kesehatan, dan 1 dari 3 berusia lansia.
2. Risiko kesehatan utama yang dihadapi lansia, mencakup penyakit tidak menular, penyakit menular (COVID-19), dan risiko saat menjalani aktivitas haji.
3. Seluruh calon jemaah, termasuk lansia, wajib mengikuti 3x pemeriksaan sebelum berangkat. Jika ada permasalahan atau untuk menjaga kebugaran, ada 2x masa pembinaan kesehatan.
4. Untuk menurunkan risiko penularan COVID-19, jemaah haji wajib divaksinasi lengkap dan menjaga protokol kesehatan selama berhaji.
5. Pemerintah membutuhkan dukungan institusi pendidikan dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan upaya pelayanan kesehatan haji, dengan cara :
    - Menyusun kurikulum pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan layanan bagi calon Jemaah.
    - Menjalankan pendidikan bagi calon tenaga kesehatan atau tenaga yang akan berangkat.
    - Melakukan riset yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan kesehatan jemaah haji.

Acara dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab oleh mahasiswa dan dosen dari FK UIN kepada Bapak Wakil Menteri Kesehatan.

Penulis: dr. Ade Irma Rosiani, MKM
Editor: TeBe Margono

 

Share Berita ini :

   