KEMENTERIAN KESEHATAN RI

PUSAT KESEHATAN HAJI

Kapuskes Haji: “Morbiditas dan Mortalitas Jemaah Haji Diharapkan Turun dengan Kurikulum Modul Promotif dan Preventif Manasik Kesehatan Haji”

 Kamis, 12 Agustus 2021
 Puskeshaji

Puskes Haji, Bekasi - Kamis 12 Agustus 2021, bertempat di Avenzel Hotel & Convention Bekasi, Jawa Barat, telah berlangsung pertemuan Penyusunan Kurikulum Modul Manasik Kesehatan Haji. Acara yang berlangsung selama 3 (tiga) hari tersebut diawali dengan pembukaan dari Kepala Pusat Kesehatan Haji dr. Budi Sylvana, MARS.

Dalam arahannya Budi menyampaikan, “Pertemuan penyusunan kurikulum dan modul ini merupakan lanjutan dari pertemuan penyusunan kurikulum dan modul Manasik Kesehatan Haji yang telah diselenggarakan di BBPK Ciloto, kegiatan ini tidak ada yang baru, hanya manasik kesehatan haji ini dikemas secara Terstruktur, Sistematis dan Masif (TSM) berkesinambungan berjenjang dari trainer nasional, provinsi, kabupaten/kota dan kepada Jemaah haji”.

Selanjutnya acara diikuti dengan sambutan dari Kepala Sub Direktorat Bimbingan Jemaah Haji Direktorat Bina Haji Kementerian Agama, H. Arsyad Hidayat, LC, MA. Dalam sambutannya Arsyad menyampaikan: “Manasik haji yang dilaksanakan oleh Kemenag di luar Jawa sebanyak 10 kali (2 kali di kabupaten/kota dan 8 kali di kecamatan), di Jawa 8 kali (2 kali di Kabupaten/kota dan 6 kali di Kecamatan). Kami sudah buat kurikulumnya, nanti akan di masukkan dalam pedoman Bimsik (Bimbingan Manasik) yang akan dicetak pada tahun 2022. Diharapkan di tahun 2022 bisa disosialisasikan ke jemaah haji, di dalamnya terdapat kebijakan penyelenggaraan haji baik dari Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Arab Saudi, ada juga materi manasik kesehatan haji, selain materi pelaksanaan ibadah haji”. Selain materi bimbingan manasik haji ada juga pembimbing manasik haji yang bersertifikat yang telah kami latih sertifikasi dan dilengkapi juga dengan materi kesehatan haji. Pembimbing manasik haji ini telah tersertifikasi dan wajib dimiliki oleh Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Umrah (KBIHU), karena itu merupakan suatu aturan yang wajib ditaati oleh semua penyelenggara perjalanan ibadah haji dan umrah”.

“Hal-hal apa yang bisa linier dikerjakan bersama antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama, maka wajib kita kerjakan, karena concern kita adalah kepada petugas yang kita rekrut. Ada hal-hal yang bisa kita sinergikan dengan Kementerian Agama. Diharapkan dalam kurikulum modul ini ada materi Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi orang awam agar bisa menolong orang yang mengalami serangan jantung secara cepat dan tepat dan dapat dilakukan orang awam. Jangan ada penambahan biaya bagi Jemaah haji, diharapkan Kementerian Kesehatan tetap berada dijalurnya dalam menjalankan manasik kesehatan haji,” demikian arahan Budi dalam menutup paparannya. (AIR)

Share Berita ini :

   