KEMENTERIAN KESEHATAN RI

PUSAT KESEHATAN HAJI

Critical Periode Operasional Haji Perlu Digarap Lebih Serius Sebagai Usaha Menurunkan Angka Kematian Jemaah Haji

 Senin, 27 Desember 2021
 Puskeshaji

Puskeshaji, Bekasi -- Pusat Kesehatan mengadakan pertemuan Advokasi Rekomendasi Hasil Kajian Implementasi Pembinaan Kesehatan Jemaah Haji Indonesia di Masa Pandemi Covid-19 dan Manasik Kesehatan Haji Tahun 2021 bertempat di Hotel Avenzel, Bekasi Jawa Barat tanggal 27 Desember 2021.

Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama antara Pusat Kesehatan Haji dan Badan Litbang Kesehatan (Balitbangkes) dalam rangka mengevaluasi upaya pembinaan kesehatan jemaah haji terutama masa pandemi COVID-19 dan Manasik Kesehatan Haji. Kegiatan evaluasi dilakukan selama 2 bulan dengan melaksanakan kajian di provinsi terpilih.

Pertemuan ini bertujuan untuk memperoleh masukan dan rekomendasi berdasarkan hasil kajian yang sudah dilaksanakan. Pertemuan dilakukan secara luring dan daring dengan menggunakan metode presentasi, pembahasan, diskusi dan tanya jawab. Secara luring mengundang 45 orang peserta yang berasal dari lingkungan Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, AKHI serta Universitas Indonesia dan UHAMKA sedangkan secara daring mengundang seluruh Dinas Kesehatan Provinsi seluruh Indonesia, Perdokhi dan FPKHI.

Dengan pertemuan ini diharapkan para peserta mengetahui rekomendasi kebijakan sebagai masukan bagi unit terkait dan stakeholder dalam rangka implementasi pembinaan kesehatan jemaah Haji Indonesia di masa pandemi Covid-19 dan manasik kesehatan Haji.

Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr Budi Sylvana, MARS, MH mengatakan bahwa gambaran angka kematian dari 15 tahun terakhir pola angka kematian menunjukkan pola yang sama dengan kisaran 2‰ setiap tahunnya. Biaya yang tidak sedikit selalu dicurahkan untuk pembiayaan kesehatan haji, tetapi belum menunjukkan penurunan angka kematian yang signifikan. “Hal ini dimungkinkan edukasi kesehatan terhadap jemaah haji dari hulu masih kurang optimal,” lanjut Budi.

Pola kenaikan angka kematian jemaah haji yang selalu naik pada 10 hari pertama periode armina (critical periode). Oleh karena itu critical periode ini yang harus digarap lebih serius. Dengan edukasi kesehatan berintegrasi dengan proses ibadah haji harus diberikan kepada jemaah haji. Aktifitas jemaah haji risiko tinggi (risti) akan diberikan pengetahuan tentang pembatasan aktifitasnya dalam menjalankan ibadahnya terkait kondisi kesehatannya, oleh karena itu jemaah haji risti harus mendapat perhatian yang lebih dari petugas kesehatan terkait aktifitas yang dilakukan selama proses ibadah haji tambah Budi.

Untuk petugas kesehatanya sudah lebih dari cukup, jadi yang perlu digarap lebih serius adalah edukasi jemaah haji. Ketika jemaah haji memasuki periode Armina, rata-rata jemaah haji berjalan 7-8 km/hari di luar thawaf dan Sa’i dengan space 0,8 meter per jemaah ditambah dengan kondisi di jalan berdesak-desakan, udara yang tidak menentu, dan kelelahan sehingga dapat menyebabkan tekanan fisik dan mental jemaah haji itu sendiri yang dapat menimbulkan masalah kesehatan untuk jemaah haji itu sendiri lanjut Budi.

Hasil kajian disampaikan oleh Kepala Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan, Dr. Sugianto, SKM, MSc.PH mengatakan bahwa pembinaan secara TSM (Terstruktur Sistematis dan Masif) perlu dilaksanakan di semua tingkatan. Selain itu dalam pelaksanaan pembinaan kesehatan jemaah haji perlunya standarisasi untuk metode, materi dan pelaksanaan pembinaan kesehatan haji tambah Sugianto. Dalam penyampaian hasil kajian ada 2 orang pembahas: Dr Hermawan Saputra, MPH (UHAMKA) dan Dr. Asyary, MPH dari Universitas Indonesia.

Penulis : Siti Kunjanaeni
Editor : TeBe Margono

Share Berita ini :

   