KEMENTERIAN KESEHATAN RI

PUSAT KESEHATAN HAJI

Persiapan Kesehatan yang Harus Diperhatikan Calon Jamaah Haji Indonesia

 Rabu, 01 Juli 2020
 Puskeshaji

Jakarta, 1 Juli 2020 - Berhaji merupakan ibadah wajib bagi seorang muslim yang mampu. Setidaknya, mampu di sini dalam dua hal yakni secara finansial dan secara kesehatan.

Demi kelancaran ibadahnya,itu harus dipersiapkan baik-baik jauh sebelum hari keberangkatan. Jika kondisi fisik tidak betul-betul disiapkan bisa jadi kegiatan ibadah Anda akan terganggu dan malah membahayakan diri.

Kenapa harus melakukan persiapan kesehatan sebelum berangkat haji?

Untuk menjalankan rangkaian ibadah, jamaah membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang baik. Misalnya saat menjalankan Mabit di Muzdalifah, perjalanan dari Arafah ke Muzdalifah bisa melelahkan dan macet karena ada jutaan orang berbondong-bondong menuju ke sana.

Belum lagi kondisi cuaca yang berbeda dengan cuaca di Indonesia. Hal-hal tersebut berpotensi menimbulkan risiko bagi kesehatan jamaah haji.

Secara umum faktor risiko yang dihadapi jamaah haji diklasifikasikan dalam dua kategori. Yang pertama adalah Communicable Diseases atau penyakit menular yang disebabkan bakteri, virus, parasit, dan jamur seperti meningitis, infeksi saluran dafas, Diare, dan infeksi kulit.

Yang kedua adalah Non Communicable Diseases atau NCD (tidak menular), misalnya penyakit kardiovaskuler, trauma, luka bakar, sengatan panas dan luka tajam. Penyakit NCD ini menjadi tantangan berat bagi para jamaah haji Indonesia.

Tahun lalu, penyakit jantung jadi penyebab utama para jamaah haji Indonesia yang meninggal dunia. Selain itu, teratas penyakit yang juga memiliki risiko tinggi saat menjalankan haji adalah penyakit pernafasan, dehidrasi, dan stroke.

Yang perlu jadi catatan, mayoritas penyebab kambuhnya penyakit-penyakit tersebut adalah karena faktor kelelahan.

Hanya saja, Anda tidak perlu terlalu khawatir karena faktor risiko sakit ini bisa dikurangi dengan melakukan beberapa persiapan kesehatan sebelum pergi haji.

Rangkaian persiapan kesehatan yang perlu dijalankan calon jamaah haji

Demi kelancaran ibadah semua itu harus dipersiapkan dengan baik jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan. Jika kondisi fisik tidak betul-betul disiapkan, bisa jadi kegiatan ibadah haji akan terganggu dan malah membahayakan diri sendiri.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan, dr. Eka Jusup Singka, menjabarkan beberapa langkah persiapan kesehatan sebelum para jamaah berangkat ke tanah suci.

“Sebelum berangkat, jamaah haji harus tahu dulu kondisi kesehatannya, misalnya apakah punya sakit jantung, punya sakit asma, atau penyakit lainnya. Mengetahui di mana posisi kita dalam hal kesehatan adalah kunci utama dan yang terpenting” ujar dr. Eka kepada Hello Sehat.

Untuk mengetahui kondisi kesehatannya, jamaah diminta untuk melakukan screening (skrining) kesehatan secara menyeluruh. Memastikan kondisi fisiknya yang paling terkini.

Pemeriksaan kesehatan tahap pertama ini untuk mengetahui tingkat risiko yang dimiliki oleh masing-masing individu. Dari hasil pemeriksaan kesehatan tersebut, jamaah bisa melakukan perawatan, serta latihan untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi fisik sebelum berangkat.

Dengan melakukan pemeriksaan, porsi olahraga dan aktivitas fisik yang dilakukan juga bisa terukur sesuai kebutuhan tubuh masing-masing.

Dr. Eka menyarankan untuk yang kondisi fisiknya sehat bisa melatih ketahanan fisik dengan berjalan kaki 30-60 menit setiap pagi. Sedangkan untuk calon jamaah yang memiliki penyakit seperti jantung atau paru-paru, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter masing-masing terlebih dahulu.

Dalam rangka menjaga kesehatan fisik jamaah, Anda juga perlu mengonsumsi makanan sehat yang penuh nutrisi sesuai kebutuhan tubuh masing-masing.

Selain pemeriksaan fisik, kesehatan jiwa calon jamaah juga harus dalam kondisi sehat. Jamaah juga diimbau untuk mengurangi hal-hal yang meningkatkan risiko stres.

Melakukan vaksin meningitis dan influenza

Calon jamaah haji diwajibkan untuk melakukan vaksin meningitis (meningococcus ACW135Y). Vaksin meningitis menjadi salah satu syarat memasuki Arab Saudi karena virus meningitis bisa menyebar lewat para jemaah haji yang berasal dari negara yang menjadi endemis meningitis.

Biaya vaksinnya sendiri sudah termasuk dalam biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH).

Selain vaksin meningitis, ada dua vaksin lain yang tidak wajib namun sangat disarankan, yakni vaksin influenza (seasonal flu) dan vaksin pneumonia.

Perlu dicatat bahwa kesehatan fisik dan mental sangat vital dibutuhkan oleh para calon jemaah haji. Hal tersebut dikarenakan kondisi di Arab Saudi yang cukup berbeda dengan Indonesia.

Untuk itu, ikuti protokol yang berlaku, tetap jaga kesehatan, dan jangan lupa untuk mencari informasi serta tips agar lancar saat menunaikan ibadah haji di tanah suci. (Ulva - Hello Sehat)

 

Share Berita ini :

   