KEMENTERIAN KESEHATAN RI

PUSAT KESEHATAN HAJI

Disiplin Menjaga Kesehatan Selama Menjalankan Ibadah Haji

 Rabu, 01 Juli 2020
 Puskeshaji

Jakarta, 1 Juli 2020 - Sebelum berangkat ke tanah suci, calon jemaah haji harus sudah menjalani rangkaian pemeriksaan dan persiapan kesehatan. Mereka juga telah dibekali informasi kesehatan dari tim medis agar mampu menjaga kondisinya selama proses berhaji.

Setelah semua prosedur persiapan kondisi kesehatan dilaksanakan di tanah air, jemaah harus disiplin menjaga kebugaran fisiknya saat berada di Arab Saudi.

Menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah haji

Sesampainya di Arab Saudi, jemaah haji dianjurkan untuk memeriksakan kesehatannya di Pos Kesehatan Haji Indonesia di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

Jika jemaah sakit saat kedatangan, bisa beristirahat, makan, dan minum secukupnya sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Makkah atau Madinah. Jemaah juga bisa meminta untuk diresepkan vitamin yang bisa didapatkan secara gratis di pos kesehatan tersebut. Selanjutnya yang menjadi kunci kesehatan jemaah adalah perilaku disiplin.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan, dr. Eka Jusup Singka, mengatakan bahwa jemaah harus memperhatikan kedisiplinan dalam berkegiatan.

Langkah pertama dari dr. Eka adalah agar jamaah bisa seimbang antara aktivitas dan beristirahat.

“Pada tahap kedua, yang harus dikendalikan adalah perilaku. Jemaah haji harus sadar betul ukuran kemampuan fisik mereka,” jelas dr. Eka Jusup dalam wawancaranya dengan Hello Sehat. “Jika hanya mampu umrah 4 kali dalam satu musim haji, jangan memaksakan harus jadi 8 kali.”

Menurutnya, mayoritas penyebab kambuhnya penyakit yang dimiliki jemaah adalah karena faktor kelelahan. Jadi, jangan sampai target ibadah yang berlebihan justru menimbulkan penyakit pada tubuh.

“Ini yang sangat kami perhatikan betul karena jemaah haji kita belum seimbang antara kondisi kesehatannya dengan pola kegiatan dan ibadah. Ada kasus jemaah jadi hipertensi kemudian stroke, atau diabetes melitus kemudian koma. Itu semua karena perilaku tidak disiplin,” jelas dr. Eka.

Perilaku disiplin yang dimaksud dr. Eka juga termasuk pada pemilihan waktu ibadah. Banyak jemaah yang melakukan umrah pada dini hari. Padahal waktu inidigunakan untuk beristirahat, terutama untuk jemaah yang sudah berusia lanjut dan memiliki penyakit.

“Seringkali ide keluar pada malam hari sekitar jam 2 atau jam 3 ini diinisiasi oleh kelompok, jadi semua ikut jalan berkelompok,” kata dr. Eka.

dr. Eka pun berpesan bahwa jemaah harus berpegang teguh pada pendiriannya bahwa ia harus istirahat agar bisa melanjutkan kegiatan pada keesokan harinya dengan tubuh fit.

Cara menjalankan ibadah di tengah kerumunan dan cuaca panas

Beribadah bersama jutaan orang ditambah cuaca yang ekstrem saat berhaji adalah hal yang tidak bisa dihindarkan. Namun, tetap ada cara yang bisa diikuti agar tetap kesehatan tetap terjaga selama proses ini.

Berikut beberapa tips dari dr. Eka Jusup:

1. Membawa payung

Panas matahari bisa menyebabkan heat stroke atau sengatan panas. Itu adalah  kondisi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu secara dramatis dalam waktu cepat. Heat stroke biasanya terjadi saat seseorang merasa kepanasan hebat akibat paparan suhu panas dari sengatan matahari di luar batas toleransi tubuh.
Payung menjadi benda yang dibutuhkan untuk membantu menangkal sinar matahari langsung ke tubuh. Hal itu juga dapat mencegah heat stroke yang bisa terjadi kapan saja. Bila perlu, bawa pula kacamata hitam dan tabir surya untuk dipakai saat cuaca panas menyengat.

2. Minum air putih

Salah satu penyakit yang paling banyak menyerang jemaah haji Indonesia adalah dehidrasi. Karena itu jangan lupa penuhi kebutuhan cairan tubuh, jangan sampai tubuh mengalami dehidrasi dan kelelahan.

Jika seseorang mengalami dehidrasi dan tidak cukup mengeluarkan keringat untuk mendinginkan tubuh, suhu dalam tubuh akan meningkat drastis sehingga menyebabkan heat stroke.

3. Jangan gandengan berjejer (saf)

Menurut dr. Eka, kelompok jemaah haji tidak perlu bersaf atau berjejer bergandengan dan usahakan untuk berbaris ke belakang. “Karena kalau bersaf itu saat yang satu tersenggol bisa jatuh semua,” tuturnya.

Selain langkah-langkah di atas, jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan dengan membersihkan diri, cuci tangan sebelum dan sesudah makan, dan tidak menjemur baju di dalam kamar karena akan membuat udara ruangan lembap.

Jika sakit, layanan kesehatan apa saja yang bisa didapatkan jemaah Indonesia?

Jika sudah terlanjur sakit, jemaah haji bisa mengunjungi BPHI yang disediakan Kementerian Kesehatan. Balai tersebut menyediakan berbagai macam obat dan vitamin, ada dokter dan tenaga medis lainnya.

Semua pelayanan kesehatan pada jemaah haji Indonesia di Arab Saudi adalah gratis, termasuk ambulans dan biaya tindakan lainnya jika harus dirujuk ke rumah sakit milik pemerintah Arab Saudi.

“Kami dari Kementerian Kesehatan ingin sekali jamaah haji tetap dapat pahala sesuai dengan proporsi, dan kembali ke Indonesia dengan sehat,” tutup dr. Eka. (Ulva - Hello Sehat)

 

Share Berita ini :

   