KEMENTERIAN KESEHATAN RI

PUSAT KESEHATAN HAJI

Pemeriksaan Kesehatan Haji Terus Jalan, Ini Syaratnya

 Senin, 13 April 2020
 Puskeshaji

Jakarta (FKAPHI)—Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Jusuf Singka meminta Puskesmas ataupun pelayanan pemeriksaan kesehatan jemaah haji untuk terus berjalan seperti biasa akibat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maupun physical distancing (jaga jarak ) yang terjadi di kota-kota di Indonesia.

“Puskesmas saya sudah tekankan betul, pemeriksaan kesehatan jemaah haji harus tetap jalan,” kata Eka saat rapat melalui aplikasi daring (online), Senin (13/04).

Eka menuturkan, pemeriksaan kesehatan jemaah haji yang biasanya menjadi tempat berkumpulnya jemaah haji yang akan memeriksakan kesehatannya setelah melakukan pelunasan biaya haji, dengan diberlakukannya PSBB ini dibatasi jumlah jemaah haji yang memeriksakan kesehatannya.

“Pengaturan pemeriksaan itu tentunya seperti biasanya, tidak bisa berkumpul yang diperiksa satu atau dua orang saja dan jamnya diatur,” kata Eka.

Diskusi ini digagas Pengurus Besar Forum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia (PB FKAPHI) dengan menghadirkan narasumber langsung Kapuskes Haji Eka Jusuf Singka serta dihadiri oleh para pengurus FKAPHI baik pengurus besar maupun pengurus wilayah dan Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kabupaten Kota.

Eka menjelaskan, virus ini adalah Corona Virus Desease, Corona adalah virus yang terdapat dibinatang, tapi dipindahkan ke manusia. Hampir sama dengan MersCov (Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus) yang juga berasal dari Corona,

“Tapi transmisinya sekarang ini jauh lebih cepat dari MersCov yang terlokalisasi hanya di Negara Timur Tengah (Middle East) saja, kemudian SARS yang diseputar Cina, Singapura dan Korea,” jelas Eka.

Untuk jemaah haji, Eka meminta harus menjaga kondisi tubuhnya, menurutnya, penyakit itu ada dua macam, penyakit menular dan tidak menular. Bagaimana jemaah haji itu bisa mengerjakakan syarat, rukun dan wajib hajinya.

 “Maka harus sehat, untuk penyakit menular dapat diobati dengan vaksin seperti meningitis, divaksin aja In sya Allah sudah selesai,” jawabnya.

Untuk penyakit yang tidak menular, kata Eka, pencegahannya hanya dua yaitu cegah lelah dan cegah dehidrasi. Kalau dipelajari dengan ilmu epidemologi dan biomolekular, jika kekurangan air terjadi ketidakseimbangan cairan tubuh, lelah juga begitu akan terjadi penimbunan asam laktat.

“Jemaah haji kita 63-67 persen risiko tinggi dan mempunyai penyakit yang tidak menular, pencegahannya hanya dua yaitu cegah lelah dan cegah dehidrasi,” terangnya.

“Dalam dakwah kesehatan haji kita bagimana jemaah haji kita tidak mengalami dehidrasi, karena pangkal utamanya adalah dehidrasi,” sambungnya. (Kemenag)

Share Berita ini :

   