KEMENTERIAN KESEHATAN RI

PUSAT KESEHATAN HAJI

Pengukuran Kebugaran Kesehatan Jemaah Haji Harus Terus Diberdayakan

 Rabu, 25 November 2020
 Puskeshaji

Catatan perjalanan di Propinsi Jambi.
20 November 2020.

Persiapan yang terpenting dilakukan dalam melaksanakan Haji adalah menguasai ilmu manasik ibadah haji dan menyiapkan isthitaah kesehatan haji.

Isthitaah kesehatan haji dimulai sejak jemaah melakukan pendaftaran bahkan sebelum berniat akan berhaji. Seorang yang akan berhaji harus menyiapkan bekal zadhu berupa modal kesehatan yang memadai, sementara pemerintah dalam hal ini menstimulus dengan menyiapkan sarana dan prasarana untuk pembinaan kesehatan haji seperti kegiatan sosialisasi isthitaah kesehatan haji yang terdiri dari senam kesehatan haji, pengukuran kebugaran dengan metode rockport atau six minutes walking test. Jika kebutuhan jemaah tersebut terpenuhi dan dapat berjalan dengan baik maka tingkat kebugarannya akan lebih bagus dan jemaah haji akan tahan menghadapi kondisi matra yang berbeda di tanah suci. Permasalahannya adalah kebanyakan para jemaah haji tidak memahami bahwa untuk mencapai kondisi kesehatan yang optimal dibutuhkan waktu yang relatif lama perlu pula diikuti dengan evaluasi berkala agar fungsi jantung dan paru dapat di perbaiki lebih optimal lagi. Karenanya jemaah haji yang akan menunaikan ibadah haji harus ikhlas menyediakan waktunya lebih kurang 30 menit setiap hari berjalan kaki agar terbentuk kekuatan otot jantung dan paru yang optimal. Follow up dilakukan secara berkala 3 - 6 bulan, jika dilakukan secara rutin hasilnya bisa lebih baik dan tingkat kebugaran jemaah akan meningkat setidaknya dengan kategori baik dapat dipertahankan sampai masa keberangkatan tiba.

Persoalan di lapangan yang ditemukan terkait dengan minat untuk pengukuran kebugaran ini adalah lamanya masa tunggu jemaah haji sampai keberangkatannya yang menjadi sebab jemaah haji enggan untuk memulai kegiatan pengukuran kebugaran tersebut dan mereka cenderung akan memulainya sesudah menerima informasi pelunasan biaya ibadah haji dengan kisaran 10-30 tahun lagi. Informasi yang diperoleh ternyata rata-rata pembinaan atau pengukuran kebugaran kesehatan yang dilakukan di masyarakat masih diangka 51% dari jumlah jemaah haji yang akan berangkat di tahun berjalan dan jika disasar dari jumlah pendaftar maka prosentase pelaksanaan pengukuran kebugaran tersebut prosentasenya semakin kecil berkisar 3-5% saja. Kegiatan sosialisasi haji sehat yang selama ini digelar hendaknya dijadikan momentum bagi pengelola kesehatan haji di daerah untuk lebih serius dan fokus mem folow up kebugaran jemaah di daerahnya sampai masa keberangkatan tidak hanya terkesan seremonial belaka namun sesudah itu harus dilanjutkan dengan membuat jadwal yang terinci kapan dan di mana pengukuran kebugaran tersebut akan dilaksanakan di daerah masing-masing. Angka prosentase yang masih rendah menjadi indikasi kurang bagusnya pengelolaan pengukuran kebugaran bagi jemaah haji dan mestinya menjadi tantangan sekaligus peluang bagi daerah menyiapkan resiliens kesehatan bagi jemaah yang akan berangkat agar mereka bugar dan tangguh sampai selesai melaksanakan ibadahnya. Pelaksanaan pengukuran kebugaran ini bersifat lintas program maka perlu ditingkatkan jejaringnya sampai ke masyarakat. Hal ini bisa dilakukan dengan melibatkan pegiat kesehatan masyarakat peduli kesehatan haji seperti asosiasi kesehatan haji yang telah tersebar di seluruh Indonesia, karena jika hanya mengandalkan pemerintah maka capaian tersebut akan jauh dari harapan. Adapun cara yang lebih ditingkatkan kembali adalah peran serta masyarakat (PSM), memberdayakan Komunikasi Informasi dan Edukasi efektif (KIE) akan pentingnya menjaga dan merawat kesehatan sebelum melaksanakan haji melalui pertemuan webbinar atau zoom meeting. Sementara itu teknis pelaksanaan pengukuran kebugaran bagi jemaah haji serta follow up nya di nilai masih kurang, banyak petugas kesehatan baik di dinas kesehatan kabupaten kota maupun propinsi yang masih ambigu yang mengorbankan program kebugaran tersebut karena kurang koordinasi dengan lintas sektor dan program terkait sehingga kegiatan pengukuran kebugaran tersebut tidak berdampak pada peningkatan status kesehatan jemaah haji. (AH)

Share Berita ini :

   