KEMENTERIAN KESEHATAN RI

PUSAT KESEHATAN HAJI

Webinar Kesehatan “Covid-19 Dalam Penyelenggaraan Haji Dan Umrah”

 Minggu, 22 November 2020
 Puskeshaji

Jakarta, 21 November 2020 - Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Webinar Kesehatan dengan tema “Covid-19 dalam Penyelenggaraan Haji dan Umrah". Narasumber Webinar adalah Dr. dr Eka Jusup Singka, M.Sc Kepala Pusat Kesehatan Haji yang saat ini sedang berada di Arab Saudi dalam rangka monitoring dan evaluasi penyelenggaraan umrah Indonesia, dr. Mohammad Yanuar Fajar, SpP, FISR, FAPSR yang bekerja di RSUD Pasar Minggu yang merupakan salah satu Rumah Sakit Penanggulangan Covid-19 dan dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD, KPTI, FACP-FINASIM, PhD yang saat bekerja di FKUI/RSUP Cipto Mangunkusumo.

Dalam materinya Kepala Pusat Kesehatan Haji Dr. dr. Eka Jusup Singka, MSc mengatakan bahwa kondisi umrah saat pandemi tidak terlepas dari penyakit komorbid, pemeriksaan swab PCR dan Karantina. Kementerian Agama telah mengeluarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 719 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 dan Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Protokol Kesehatan. Kedua Kebijakan ini agar ditaati oleh PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah).

“Proses penyelenggaran umrah dimulai PCR Swab 72 jam sebelum kedatangan”, kata Eka. Pelaksananya adalah Farmalab, setelah itu dilakukan Validasi oleh Maskapai Saudi Airlines (SV), selanjutnya ketika datang Jemaah wajib melakukan karantina 3 hari dan dilakukan pemeriksaaan PCR Swab lagi.

Eka menambahkan bahwa skema penyelenggaraan ibadah umrah sebaiknya diawali dengan Pemeriksaan Kesehatan dengan hasil surat keternagan bebas komorbid. Bila Jemaah bebas komorbid, maka Jemaah mendaftar ke travel. Saat akan berangkat dilakuka Pemeriksaan Swab PCR dan sebaiknya karantina sebelum penerbangan.

Selanjutnya dr. Mohammad Yanuar Fajar, SpP, FISR, FAPSR menjelaskan bahwa gejala klinis Covid-19 adalah demam, nyeri kepala, nyeri otot, gangguan penciuman, gangguan pengecapan, nyeri tenggoroken, batuk, gangguan penapasan, mual/muntah/nyeri perut. Selain itu Yanuar juga menjelaskan tentang definisi kasus, kriteria pulang (WHO). Di akhir penjelasannya, Yanuar mengatakan bahwa belum ada terapi spesifik untuk Covid-19.

Dalam materi terakhir dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD, KPTI, FACP-FINASIM, PhD mengatakan bahwa pasien dengan komorbid jangan sampai kondisi di luar Covid-19 memperberat dan dapat menyebabkan kematian. Adapun tantangan dalam menghadapi Covid-19 adalah belum ada anti-viral yang efektif, belum ada vaksin, Pencegahan sangat penting 3M TM (tidak merokok), kontrol komorbid sangat penting, diharapkan pasien komorbid tidak menghentikan obat rutin dan pemantauan diperlukan pada pasien Covid dengan komorbid, terutama resiko terjadinya komplikasi.

Dalam diskusi Eka menambahkan bahwa Ketentuan Kementerian Kesehatan Arab Saudi, bila ada jemaah swab PCR positif , maka akan dilakukan karantina 10 hari. Bila 10 hari tidak ada gejala, maka dianggap sehat dan tidak diperiksa lagi, dan boleh menjalankan ibadah umrah, setelah itu disuruh pulang.

“Yang jadi banyak pertanyaan adalah Jemaah negatif saat berangkat, dan diberangkatkan. Tetapi mengapa ada yang bisa positif?” Tanya Eka. Inilah perlunya edukasi kepada publik dan PPIU. (ENN)

 

Share Berita ini :

   