KEMENTERIAN KESEHATAN RI

PUSAT KESEHATAN HAJI

Kategori
BERITA VIDEO
Video Apa Itu Tanazul?


Jum'at, 28 Agustus 2020

Video Tutorial Senam Haji Sehat


Kamis, 20 Agustus 2020

Lihat Berita Video Lainnya

ISTITHA’AH KESEHATAN HAJI

 Jum'at, 26 April 2019
 Puskeshaji

Medan, 26 April 2019 - Diskripsi Masalah

Ibadah haji diwajibkan bagi setiap muslim dan muslimah yang mampu (istitha’ah). Istitha’ah yang menjadi salah satu syarat wajib haji. mencakup aspek finansial (biaya perjalanan dan bekal untuk keluarga yang ditinggalkan) dan keamanan. Aspek kesehatan serta kemampuan jasmani dan rohani merupakan faktor yang harus diperhatikan oleh calon jamaah haji. Permenkes No.15 tahun 2016 telah mengatur tentang istitha’ah kesehatan jamaah haji. Dalam Permenkes tersebut dijelaskan bahwa istitha’ah kesehatan jamaah haji memiliki makna kemampuan jamaah haji dari aspek kesehatan yang meliputi fisik dan mental yang terukur melalui pemeriksaan medis. Meskipun dalam Permenkes soal istitha’ah haji ini telah diterapkan dalam penyelenggaraan ibadah haji, kasus wafatnya jamaah haji di Arab Saudi masih tinggi. Pada musim haji 2017, jamaah haji Indonesia yang wafat mencapai 431 orang. Sementara pada 2016, jamaah haji yang wafat tercatat 390 orang. Tentu angka kematian jamaah haji tersebut memiliki banyak variabel. Pertama, kondisi kesehatan sebagian jamaah yang kurang prima sejak dari tanah air. Kedua, lingkungan dan pola perilaku jamaah selama berada di Tanah Suci. Ketiga, pada tahun 2017 Indonesia mendapat kuota sebanyak 221 ribu jamaah, sedangkan pada tahun 2016 jamaah haji yang diberangkatkan sebanyak 168.800 jamaah.Secara umum, ada tiga hal yang menyebabkan jamaah haji tidak memenuhi syarat isthita’ah kesehatan; 1) penyakit yang bisa membahayakan diri sendiri dan jamaah lain, 2) gangguan jiwa berat, dan 3) penyakit berat yang tidak dapat disembuhkan. Dari hasil pemeriksaan kesehatan calon jamaah yang dilakukan oleh tim dokter kesehatan haji, disimpulkan ada empat kategori istitha’ah. Pertama, memenuhi syarat istitha’ah kesehatan haji. Kedua, memenuhi syarat istitha’ah kesehatan haji dengan pendampingan. Ketiga, tidak memenuhi syarat istitha’ah kesehatan haji untuk sementara. Keempat, tidak memenuhi syarat istitha’ah kesehatan haji secara permanen.

Perumusan Masalah

1. Apakah aspek kesehatan merupakan bagian dari syarat istitha’ah dalam ibadah haji?

2. Apakah seseorang yang memenuhi syarat istitha’ah haji, namun mengalami gangguan kesehatan, harus melaksanakan ibadah haji secara mandiri tanpa bantuan orang lain?

3. Apa udzur syar’i yang menyebabkan seseorang masuk kategori wajib haji tetapi ditunda pelaksanaannya?

4. Apa udzur syar’i yang menyebabkan seseorang masuk kategori wajib haji tetapi harus dibadalkan (bi inabah al ghair)?

5. Apa syarat orang yang boleh menjadi badal haji untuk orang lain?

6. Apakah pemerintah (ulil amri) memiliki kewenangan untuk tidak mengizinkan calon jamaah haji menunaikan ibadah haji karena alasan kesehatan?

Ketentuan Hukum

1. Kesehatan merupakan syarat ada’ (pelaksanaan) haji, dan bukan merupakan syarat wajib. Seseorang yang sudah istitha’ah dalam aspek finansial dan keamanan, tapi mengalami gangguan kesehatan, pada dasarnya tetap berkewajiban untuk berhaji.

2. Seseorang dinyatakan mampu untuk melaksanakan ibadah haji secara mandiri, bila sehat fisik dan mental untuk menempuh perjalanan ke tanah suci danmelaksanakan ibadah haji. Apabila seseorang mengalami udzur syar’i untukmelaksanakan ibadah haji karena penyakit yang dideritanya atau kondisi tertentu yang menghalanginya untuk tidak melaksanakan ibadah haji secara mandiri, padahal dia memiliki kemampuan secara finansial, maka kewajiban haji atasnya tidak gugur; sedangkan pelaksanaannya ditunda atau dibadalkan (inabati al ghoir).

3. Seseorang dapat ditunda untuk melaksanakan ibadah haji jika:

a. Menderita penyakit tertentu yang berbahaya tetapi berpeluang sembuh;

b. Hamil yang kondisinya bisa membahayakan diri dan atau janinnya;

c. Menderita penyakit menular yang berbahaya;

d. Terhalang untuk bepergian sementara.

4. Udzur syar’i yang menyebabkan haji seseorang dibadalkan (inabati al ghair) adalah:

a. Orang yang mempunyai kemampuan finansial, akan tetapi meninggal sebelum melaksanakan ibadah haji;

b. Tua renta;

c. Lemah kondisi fisik terus menerus akibat penyakit menahun;

d. Penyakit berat yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya;

e. Terhalang untuk bepergian secara terus menerus;

5. Syarat untuk menjadi badal haji adalah:

a. Akil baligh;

b. Tidak berhaji untuk dirinya;

c. Sudah melaksanakan ibadah haji untuk dirinya;

d. Bisa dipercaya melaksanakan ibadah haji untuk orang yang dibadalkan;

e. Tidak terhalang untuk melaksanakan ibadah haji;

f. Satu orang yang menjadi badal haji hanya boleh melakanakan haji untuk satu orang.

6. Pemerintah (ulil amri) memiliki kewenangan untuk tidak mengizinkan calon jamaah haji melaksanakan ibadah. (www.muisumut.com)

Share Berita ini :

   