KEMENTERIAN KESEHATAN RI

PUSAT KESEHATAN HAJI

Kategori
BERITA VIDEO
Video Apa Itu Tanazul?


Jum'at, 28 Agustus 2020

Video Tutorial Senam Haji Sehat


Kamis, 20 Agustus 2020

Lihat Berita Video Lainnya

Pertemuan 4th Global Ministerial Summit 2019 “Patient Safety” 2-3 Maret 2019, Jeddah, Arab Saudi

 Senin, 04 Maret 2019
 Puskeshaji

Kementerian Kesehatan RI ikut berpartisipasi dalam pertemuan 4th Global Summit 2019 yang dilaksanakan di Jeddah Arab Saudi tanggal 2-3 Maret 2019. Pertemuan yang membahas tentang Patient Safety ini di hadiri oleh 49 Kementerian Kesehatan di dunia. Pertemuan dibuka oleh Menteri Kesehatan Kerajaan Arab Saudi dr. Tawfiq Al Rabiah.

Pertemuan ini dilaksanakan karena negara di dunia sadar bahwa issue tentang keselamatan pasien sangatlah penting. Data menunjukan bahwa setidaknya 2,6 Juta orang meninggal dunia karena kesalahan medis (medical error). Dan Menteri Kesehatan Kerajaan Arab Saudi dr. Tawfiq Al Rabiah mengatakan bahwa “setiap 13 menit orang meninggal di EMRO karena medical eror”. Untuk itu negara di dunia berupaya untuk memperkuat system pelayanan kesehatan dan meningkatkan keselamatan pasien.

“Pertemuan ini menghasilkan ide baru dalam meningkatkan keselamatan pasien” lanjut dr. Ahmed Mandhari (Regional Director WHO EMRO). Adapun tantangan dalam meningkatkan patient safety adalah :

  1. Leadership Commitment
  2. Lack od Resources, competing Priorities
  3. Verticaly of the programs
  4. Profesionals lack of Trust on quality management/PS programs

Pertemuan dilanjutkan dengan pembahasan dan sharing diskusi oleh tiap delegasi peserta pertemuan dengan 8 tema yaitu :

  1. Universal Health Coverage & Economics of Patient Safety
  2. High Reliability Organization (HRO) & Patient Safety
  3. Patient empowerment & Patient safety
  4. Safety risk and burden of patient harm in healthcare
  5. Healthcare workface & patient safety
  6. Patient safety policy making
  7. Digital health & Patient safety
  8. Implementation science and patient safety research

Pertemuan hari kedua dilanjutkan dengan dialog Menteri tiap negara. Melalui upaya Diplomasi, Indonesia menyampaikan prakarsanya agar pada tingkat global dapat dibentuk Center of Excellence of Patient Safety sekaligus CoE pada tingkat Regional dan Nasional oleh masing-masing negara. CoE diharapkan dapat menjadi forum belajar melalui kegiatan berbagi pengalaman dan praktik terbaik diantara negara-negara. CoE juga dapat menjadi media sebagai pencetak juara-juara fasyankes dari seluruh negara yang menerapkan standar keselamatan pasien.

Indonesia sebagai satu-satunya negara di dunia yang melakukan akreditasi Puskesmas,  juga menyampaikan inisiatifnya agar Standar Keselamatan Pasien tidak hanya diterapkan di Rumah Sakit namun juga pada seluruh fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Hasil Dialog Para Menteri Kesehatan dan hasil diskusi pada tingkat teknis di forum/sesi tematik berhasil menghasilkan action points sebagai rekomendasi kepada seluruh Menteri Kesehatan yang hadir, antara lain:

  1. Setiap negara diminta untuk mengadaptasi praktik terbaik yang dilakukan negara lain dalam menerapkan standar keselamatan pasien menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan di tingkat nasional masing-masing negara;
  2. Memasukkan standar keselamatan pasien kedalam kurikulum pendidikan dokter, dokter gigi, perawat, dll melalui pendekatan simulasi praktik multidisiplin;
  3. Mengembangkan standar taxonomi untuk keselamatan pasien pada tingkat nasional, regional, kota yang mempertimbangkan klasifikasi internasional untuk kejadian yang merugikan pasien disesuaikan dengan kode ICD;
  4. Mengembangkan proses implementasi standar keselamatan pasien guna memastikan penggunaan yang aman terhadap Digital Health dan Teknologi Kedokteran;
  5. Integrasi standar keselamatan pasien sebagai persyaratan dasar untuk melaksanakan UHC pada semua tingkatan pelayanan kesehatan;
  6. Memberikan dukungan internasional untuk CDC Afrika untuk meningkatkan surveillans, respon emergensi dan penyakit infeksi yang mematikan;
  7. Mengimplementasikan komponen utama dari WHO Intra-Inter Professional Collaboration (WHO IPC) di tingkat nasional dan unit satuan kerja fasyankes yang disinergikan dengan program lainnya sepertin AMR, sepsis, cuci tangan, dll; 
  8. Menetapkan rasio SDM Kesehatan yang memiliki keterampilan yang lengkap berbasis bukti guna memastikan pelayanan kesehatan yang aman untuk pasien dan tenaga kesehatan sebagai second victims;
  9. Mengembangkan kebijakan standar keselamatan pasien pada tingkat nasional yang mencakup struktur dan proses implementasi standar keselamatan pasien dalam konteks Pelayanan Kesehatan Primer. (MM)
 

Share Berita ini :

   