Bekerja Dengan Hati

Thu, 29/09/2016 23:08:32   | Dilihat : 2475   Penulis : Admin2

Oleh: Enih Suhaenih, SS., Lc.

Memahami karakter jama’ah haji Indonesia yang berbeda-beda merupakan seni tersendiri bagi pembimbing ibadah jama’ah udzur. Pembimbing  ibadah yang diperbantukan ke Balai Pengobatan Haji Indononesia (BPHI) yang direkrut oleh kementrian agama (red. Kemenag) dikenal sebagai Pembimbing Ibadah Jama’ah Udzur (PIJU)

Kontribusi PIJU dalam membantu jama’ah udzur sangat penting, mengingat tidak semua jama’ah ketika sakit bisa melakukan ibadah dengan sempurna, sehingga diperlukan adanya pembimbing ibadah yang mengingatkan, membantu dan malayani jama’ah, agar dapat melakukan ibadah dengan baik sesuai dengan ketentuan syariat.

Fakta di lapangan yang terjadi, walaupun mungkin jama’ah sudah mengetahui bagaimana melaksanakan tayammum, shalat dalam perjalanan, tetapi masih ada juga jama’ah yang tidak mau melakukan tayammum kecuali dengan cara memakai debu, dan ada juga jama’ah yang tidak mau melakukan shalat, karaena dia sakit dan tidak bisa bangun dengan alasan nanti diqadla/ diganti setelah sampai di Indonesia.

Itulah salahsatu tugas para PIJU, memberikan pemahaman kepada jama’ah, dengan bahasa yang bisa diterima oleh mereka, sehingga dapat melaksanakan ibadah shalat fardlu dengan suka hati dan tidak dipaksa. Di samping itu juga, selain mengingatkan dan membantu shalat lima waktu, PIJU juga tidak lupa untuk memberikan semangat, motivasi dan menghibur para pasien, supaya tidak bosan dan jenuh selama berada di rumah sakit. Dengan do’a yang dibacakan oleh Pembimbing Ibadah kepada pasien, sedikit banyak, hati mereka terobati, bahwa musibah (sakit) yang menimpa mereka adalah datangnya dari Allah SWT. , dan ini yang terbaik untuk mereka. Mungkin dengan sakit inilah, cara Allah mendekatkan mereka kepadaNya.

PIJU juga harus berusaha mengganti pola fikir negatif kepada pola fikir positif yang ada selama ini dalam pikiran mereka. Contoh, kasus yang terjadi pada isteri pasien  yang sakit, menjelang sakratul maut. “Pak kenapa bapak sakit?, bapak gak boleh ninggalin saya sendiri, kita berangkat berdua, pulangpun harus berdua, bagaimana dengan anak-anak kita di rumah?”, kata  isteri  pasien yang terisak-isak menangis dengan tubuh yang sangat lemah, lunglai dan tidak kuat untuk menapakkan kaki di atas bumi. Ibu itu  terus menangis dan menangis…

Pada waktu itulah peran PIJU sangat dibutuhkan, dengan menguatkan dan menghibur ibu tersebut serta mengubah pola fikir negatif  dengan kata-kata yang positif. Misalnya: “Ibu.. kita semua hanya milik Allah, hidup dan mati hanya milik Allah, bukan milik kita, ibu sabar ya..!mudah-mudahan  Allah memberikan yang terbaik untuk bapak. Allah sedang menguji ibu, sejauh mana kesabaran dan keikhlasan ibu, setebal apa keimanan ibu.., ibu harus kuat, ibu sayangkan sama bapak?, ibu sayangkan sama anak-anak?. Lebih baik ibu luruskan niat, fokuskan jiwa dan raga ibu untuk ibadah, perjalanan haji kita belum selesai bu..mudah-mudahan Allah menjadikan kita orang- orang yang ikhlas, dan memasukkan kita menjadi hamba-hambaNya yang yang sholeh. Syethan memang tidak suka dengan hambaNya yang ta’at, karena syethan menginginkan kita menjadi temannya di neraka, Na’udzubillah min dzalik.

Membesarkan jiwa seseorang yang sedang sedih dan pesimis, itulah bagian dari tugas PIJU, sehingga dia bisa menemukan kembali semangat hidup dan kembali melakukan ibadah haji sesuai dengan syari’at. Dari SOP PIJU yang tertulis, tujuan dari PIJU adalah mengatur dan memfasilitasi  jama’ah  dalam bimbingan ibadah, sehingga jama’ah bisa melaksanakan ibadah haji dengan sempurna, sesuai rukun dan wajib hajinya,  tetapi standar tersebut ditinjau dari segi ibadah secara formal. Seorang PIJU yang sukses  adalah tidak hanya meninjau dari segi ibadah hajinya saja, tetapi ia juga bisa memberikan ketenangan hati dan ketentraman jiwa pada seorang pasien dan penjaga pasien (isteri/suami/ keluarga) untuk tetap stabil dalam masalah fisik dan psikisnya, dengan harapan dapat membantu kesembuhan pasien dengan segera.

Dari diagnosa yang ada di BPHI, kebanyakan jama’ah haji Indonesia terkena penyakit strooke, diabet, jantung, paru-paru, hypertensi dan sebagian yang meninggal karena terkena penyakit hepatitis. Kalau kita cermati, sebetulnya ada sebagian penyakit, selain bisa ditangani dengan pola hidup sehat, tetapi juga bisa diperkuat dengan pola fikir dan jiwa yang sehat yang berbasis pada kekuatan pondasi agama dan berpegang teguh pada agamaNya ditambah dengan kekuatan iman yang kokoh kepada Allah SWT.

Dari sinilah, pembimbing ibadah memiliki peran penting dan pengaruh yang sangat segnifikan dan potensial dalam kesembuhan pada jama’ah. Oleh karena itu, PIJU – dalam hal ini- adalah bagian dari dokter hati, jiwa dan fikiran, sedangkan dokter BPHI adalah dokter fisik yang terlihat dan terdeteksi oleh alat dan mata. PIJU yang berhasil adalah PIJU yang memiliki kepekaan emosional dan kepekaan sosial dalam menangani jama’ah udzur, karena biasanya, jama’ah/ pasien memiliki temperature dan sensitivitas yang sangat tinggi, emosi yang tidak stabil dan tidak terkontrol, sehingga dengan cepat bisa mempengaruhi dan mengganggu kesehatannya.

Dengan demikian, ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh PIJU adalah harus menguasai ilmu sosial (masyarakat) dan juga emotional question yang mumpuni, disamping mengetahui hukum-hukum agama dalam melaksanakan ibadah haji, supaya PIJU bisa bekerja dengan maksimal dan professional. Syarat lain yang harus dimiliki oleh PIJU ataupun petugas haji lainnya adalah, hendaknya kita bekerja dengan hati. Mudah-mudahan dengan motto inilah  yang membawa kita bekerja tanpa batas, bisa melayani jama’ah dengan rasa senang (tidak kesal) dan ikhlas, karena kita bekerja bukan untuk dilihat dan dinilai oleh manusia, tetapi kita bekerja hanya untuk Allah semata.

“Bekerja dengan hati,” itulah yang menumbuhkan loyalitas, totalitas dan profesionalitas dalam bekerja, sehingga hubungan kerja satu sama lain saling bahu-membahu dan bersinergis dalam kebaikan.