KEMENTERIAN KESEHATAN RI

PUSAT KESEHATAN HAJI

Koordinasi Persiapan Embarkasi-Debarkasi Haji Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang Tahun 2020

 Senin, 10 Februari 2020
 Puskeshaji

Bandar Lampung, 10 Februari 2020 - Bertempat di Ruang Ballroom Hotel Golden Tulip Bandar Lampung, KKP Kelas II Panjang menggelar pertemuan koordinasi persiapan embarkasi-debarkasi haji yang diikuti 3 unit pelaksana teknis di wilayah kerja KKP Panjang, Dinas Kesehatan Propinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten, Rumah Sakit Propinsi, BPJS, Laborarium Kesehatan Daerah (Labkesda) dan unsur keamanan Propinsi Lampung.

Dalam sambutannya dilanjutkan paparan, Kepala KKP Panjang, Marjunet Danoe, SKM, Mkes, menyampaikan bahwa KKP Panjang pada tahun ini dalam keadaan siaga dengan virus Corona, dan belum ada tanda-tanda untuk menghentikan antisipasi penyebaran virus tersebut sampai akhir tahun ini. Padahal menurut dia operasional haji akan dimulai pertengahan tahun ini. Oleh karena itu dia meminta unsur Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk mem-backup KKP dalam menseleksi jemaah yang tidak istithaah jauh jauh hari sebelum masuk asrama haji. Menurutnya itu akan lebih mudah diselesaikan dibandingkan jika jemaah sudah masuk asrama haji. Dalam paparannya juga dia mengharapkan pada tahun ini cakupan K3JH bisa mencapai 100% terkait surveilance nCOV. Lebih lanjut dia mengatakan bisa saja pemerintah arab saudi mensyaratkan bahwa yang berangkat ke tanah suci mereka yang mempunyai daya tahan tubuh yang tinggi agar dapat menjalankan ibadahnya dan tidak membawa penyakit pada saat pulang ke tanah air.  

Sementara itu Kabid PPFR Dr. Rosidi Roslan, SKM, SH, MPH, mengatakan sesuai perintah Undang-Undang nomor 8 tahun 2019 bahwa orang yang akan berhaji harus memenuhi syarat kesehatan atau istithaah kesehatan yang ditentukan di Kabupaten/Kota agar jemah haji dapat melunaskan biaya ibadah hajinya. Dia juga menyampaikan kriteria sakit permanen dan disabilitas yang harus dijadikan pedoman bagi petugas pemeriksa kesehatan untuk menilai status istitaah jemaah haji.  

Mengapa di Arab Saudi banyak jemaah yang sakit? Menurut dia, dikarenakan perilaku mereka tidak sehat dan kalau ada yang mengatakan bahwa orang sakit banyak yang lolos ke tanah suci, itu menandakan bahwa orang tersebut tidak memahami tentang filosofis istithaah kesehatan haji. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa domain KKP adalah menentukan laik terbang, namun jika ada jemaah yang dicurigai ke arah tidak laik (terbang) maka sah-sah saja KKP melakukan penilaian kelaikan tersebut dan berkordinasi dengan Dinkes Kab/Kota untuk ditetapkan kembali status istitaahnya.

Sebagai uraian penutupnya beliau menjelaskan secara umum faktor risiko kesehatan haji di Arab Saudi yang harus dikendalikan sejak dari tanah air adalah 1. Lingkungan yang panas dan kering . 2.Gangguan Metabolik dan 3 Perilaku yang akan mengganggu kesehatan oleh karenanya pada pintu terakhir menurut dia perlu dilakukan penyuluhan kembali terkait dengan risiko tersebut sebagai satu bentuk hadirnya pembimbing manasik kesehatan haji bagi jemaah haji di asrama haji. (AH)

Share Berita ini :

   